MAKALAH DIKSI

Layout Fix Header


MAKALAH DISK, KALIMAT DAN MAKNA









Oleh :
Kelompok 3
Rusman idrus
Panji nur iksan
Feby
Iskandar N. Id

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNOLOGI INFORMAIS FAKULTAS TEKNIK
UNIFERSITAS NEGRI GORONTALO
2016-1017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Diksi atau Pilihan Kata” . Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas dari Dosen Mata Kuliah Bahasa Indonesia Bapak Drs. Dendih Fredi Firdaus, M.Pd
Makalah ini ditulis berdasarkan berbagai sumber yang  berkaitan dengan materi diksi, serta infomasi dari berbagai media yang berhubungan dengan diksi atau pilihan kata.
Tak lupa penulis sampaikan terima kasih kepada pengajar mata kuliah Bahasa Indonesia atas bimbingan dan arahan dalam penulisan makalah ini. Dan juga kepada rekan-rekan mahasiswa yang telah memberikan masukan dan pandangan, sehingga dapat terselesaikannya makalah ini.
Penulis berharap makalah ini dapat menambah wawasan mengenai Bahasa Indonesia terutama materi mengenai Diksi atau Pilihan kata. Sehingga kita saat berkomunikasi, kita dapat meminimalisir kesalah pahaman yang akan terjadi yang dikarenakan bahasa yang kita gunakan. Dan penulis berharap bagi pembaca untuk dapat memberikan pandangan dan wawasan agar makalah ini menjadi lebih sempurna.




DAFRAT ISI
Kata Pengantar .......................................................................................................................
Daftar Isi................................................................................................................................
BAB I.....................................................................................................................................
1.      Pendahuluan...............................................................................................................
2.      Latar Belakang............................................................................................................            
3.      Rumusan masalah.......................................................................................................
4.      Tujuan........................................................................................................................
BAB II ...................................................................................................................................
Pembahasan............................................................................................................................
1.      Diksi...........................................................................................................................
2.      Kalimat efekif............................................................................................................
3.      Makna .......................................................................................................................
BAB III...................................................................................................................................
1.      Kesimpulan................................................................................................................
2.      Kritikan dan Saran......................................................................................................            
1.      Daftar pustaka............................................................................................................




BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang

Harus diakui saat ini orang sering mengesampingkan pentingnya  penggunaan bahasa,  terutama  dalam tata cara  pemilihan kata atau diksi. Kita pun sering mengalami kesalahan. Hal itu terjadi karena kita tidak mengetahui pentingnya menguasai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Penggunaan diksi sangat penting agar terciptanya komunikasi yang efektif. Hal itu agar terciptanya komunikasi yang efektif dan efisien dan untuk menghindari kesalah pahaman saat berkomunikasi. Manusia merupakan makhluk sosial sehingga kita tidak dapat terlepas dariberkomunikasi dengan sesama dalam setiap aktivitas kehidupan. Tetapi tidak jarang pula ketika sedang berkomunikasi lawan  komunikasi saat berkomunikasi mengalami kesulitan menangkap informasi, hal ini terjadi karena kata yang digunakan kurang tepat ataupun rancu sehingga menimbulkan kesalahpahaman.
Pemilihan kata yang tepat merupakan sarana pendukung dan penentu keberhasilan dalam berkomunikasi. Pilihan kata atau diksi bukan hanya soal pilih-memilih kata, melainkan lebih mencakup bagaimana efek kata tersebut terhadap makna dan informasi yang ingin disampaikan. Pemilihan kata tidak hanya digunakan dalam berkomunikasi namun juga digunakan dalam bahasa tulis (jurnalistik). Dalam bahasa tulis  pilihan kata (diksi) mempengaruhi pembaca mengerti atau tidak dengan kata-kata yang kita pilih.
Dalam makalah ini, penulis berusaha menjelaskan mengenai diksi yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari baik. Hal itu dilakukan untuk meminimalisir kesalahan yang terjadi saat berkomunikasi.
1.2       Rumusan masalah

Pengertian Diksi atau pilihan kata
Pembagian Diksi atau pilihan kata
1.3       Tujuan

Mengetahui pengertian diksi
Mampu menggunakan bahasa yang tepat dalam berkomunikasi.






BAB II
PEMBAHASAN
A. DIKSI
PENGERTIAN DIKSI
                                                                                                       Diksi dalam artian yang pertama, merujuk pada pemilihan kata  dan gaya ekspresi oleh  penulis  pembicara. Atinya yang kedua adalah enusiansi kata.1
seni bicara yang jelas sehingga dapat di pahami oleh pendengar.2
Pengertian diksi atau pilihan kata jauh lebih luas dari apa yang di pantulkan oleh jalinan kata-kata itu. Istilah ini bukan saja di pergunakan untuk menyatakan kata-kata mana yang di pakai untuk mengungkapkan suatu ide atau gagasan tetapi juga meliputi fraseeologi, gaya bahasa yang di ungkapkan. Fraseologi mencakup pesoalan kata-kata pengelompokan atau susunannya atau yang menyangkut cara-cara yang khusus berbentuk ungkapan-ungkapan.
Selain itu diksi menurut pendapat lain adalah ketepatan pemilihan kata di pengaruhi oleh kemampuan pangguna bahasa yang terkait dengan kemampuan yang memahami, mengetahui, menguasai dan penggunaan kata aktif dan efektif kepada pembaca dan pendengarnya

B. DIKSI DAN GAYA BAHASA

GAYA BAHASA

Gaya bahasa atau ranggam bahasa dan sering juga disebut majas adalah cara penutur mengungkapkan maksudnya. Banyak cara yang dapat dipakai untuk mengungkapkan maksud. Ada cara yang memakai perlambang (majas metafora, personifikasi) ada cara yang menekankan kehalusan (majas eufemisme, litotes) dam masih banyak lagi majas yang lainnya. Semua itu pada prinsipnya merupakan corak seni berbahasa untuk menimbulkan kesan tertentu bagi mitra komunikasi kita (pembaca/pendengar).
Sebelum menampilkan gaya tertentu ada enam faktor yang mempengaruhi tampilan bahasa seorang komunikator dalam berkomunikasi dengan mitranya, yaitu :
a)     Cara dan media komunikasi : lisan atau tulisan, langsung atau tidak langsung, media cetak atau media elektronik.
b)     Bidang ilmu : filsafat, sastra, hukum, teknik, kedokteran, dll.
c)     Situasi : resmi, tidak resmi, setangah resmi.
d)     Ruang atau konteks : seminar, kuliah, ceramah, pidato.
e)     Khalayak : dibedakan berdasarkan umur (anak-anak, remaja, dewasa, orang tua); jenis kelamin (laki-laki, perempuan); tingkat pendidikan dan status sosial (rendah, menengah, tinggi).
f)      Tujuan : membangkitkan emosi, diplomasi, humor, informasi.


GAYA BAHASA BERDASARKAN PILIHAN KATA

Berdasarkan pilihan kata, gaya bahasa mempersoalkan kata mana yang paling tepat dan sesuai untuk posisi-posisi tertentu dalam kalimat, serta tepat tidaknya penggunaan kata-kata dilihat dari lapisan pemakaian bahasa dalam masyarakat. Dengan kata lain, gaya bahasa ini mempersoalkan ketepatan dan kesesuaian dalam menghadapi situasi-situasi tertentu.

Dalam bahasa standar (bahasa baku) dapatlah dibedakan menjadi :
a.    Gaya Bahasa Resmi
Gaya bahasa resmi adalah gaya bahasa dalam bentuknya yang lengkap, gaya yang dipergunakan dalam kesempatan-kesempatan resmi, gaya yang dipergunakan oleh mereka yang diharapkan mempergunakannya dengan baik dan terpelihara. Gaya bahasa resmi biasa kita jumpai dalam penyampaian amanat kepresidenan, berita negara, khotbah-khotbah mimbar, tajuk rencana, pidato-pidato yang penting, artikel-artikel yang serius atau esai yang memuat subyej-subyek yang penting, semuanya dibawakan dengan gaya bahasa resmi.
Contoh dalam pembukaan UUD 1945,
Bahwa sesungguhnya kemerdekaan ini ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.
Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan bangsa Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagai dengan seelamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia kedepan pintu gerbang kemerdekaan  Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. ...(selanjutnya)

b.    Gaya Bahasa Tak Resmi
Gaya bahasa tak resmi  juga merupakan gaya bahasa yang dipergunakan dalam bahasa standar, khususnya dalam kesempatan-kesempatan yang tidak formal atau kurang formal. Gaya bahasa ini biasanya dipergunakan dalam karya-karya tulis, buku-buku pegangan, artikel-artikel mingguan atau bulanan yang baik, dalam perkuliahan, dan sebagainya. Singkatnya gaya bahasa tak resmi adalah gaya bahasa yang umum dan normal bagi kaum terpelajar.
Contoh :
Sumpah pemuda yang dicetuskan pada tanggal 28 Oktober 1928 adalah peristiwa nasional, yang mengandung benih nasionalisme. Sumpah Pemuda dicetuskan pada zaman penjajahan. Nasionalisme pada zaman penjajahan mempunyai watak khusus yakni anti penjajahan. Peringatan kepad Sumpah Pemuda sewajarnya berupa usaha merealisasikan gagasan-gagasan Sumpah Pemuda.

c.    Gaya Bahasa Percakapan
Dalam gaya bahasa percakapan, pilihan katanya adalah kata-kata populer dan kata-kata percakapan. Kalau dibandingkan dengan gaya bahasa resmi dan tak resmi, maka gaya bahasa percakapan ini dapat diumpamakan sebagai bahasa dalam pakaian sport. Itu berarti bahasanya masih lengkap untuk suatu kesempatan, dan masih dibentuk menurut kebiasaan-kebiasaan, tetapi kebiasaan ini agak longgar bila dibandingkan dengan kebiasaan pada gaya bahasa resmi dan tak resmi.
Contoh berikut adalah hasil rekaman dari sebuah diskusi dalam seminar Bahasa Indonesia tahun 1996 di Jakarta :
Pertanyaan yang pertama, di sini memang sengaja saya tidak membedakan antara istilah jenis kata atau word classes atau parts of speech. Jadi ketiganya saya artikan sama di sini. Maksud saya ialah kelas-kelas kata, jadi penggolongan kata, dan hal itu tergantung kepada dari mana kita melihat dan  dasar apa yang kita pakai untuk menggolongkannya. .......(selanjutnya)














C.        ketetapan pilihan kata:
         Membedakan makna denotasi dan konotasi yang cermat, Membedakan secara cermat makna kata yang hampir bersinonim, misalnya: adalah, ialah, merupakan, yaitu, dalam pemakaiannya berbeda- beda.
 Membedakan makna kata secara cermat kata yang mirip ejaannya, misalnya: inferensi (kesimpulan ), dan interferensi (saling mempengaruhi ), sarat ( penuh, bunting ) dan syarat ( ketentuan ).
         Menggunakan imbuhan asing ( jika diperlukan ) harus memahami maknanya secara tepat, misalnya: dilegalisir seharusnya dilegalisasi, koordinir seharusnya koordinasi.
Menggunakan kata-kata idomatik berdasarkan susunan ( pasangan ) yang benar, misalnya: sesuai bagi seharusnya sesuai dengan. Menggunakan kata umum dan khusus secara cermat. Untuk mendapatkan pemahaman yang spesifik karangan ilmiah sebaiknya menggunakan kata khusus ke umum mislnya mobil ( kata umum ) , corolla ( sedan buatan Toyota ).
Selain ketepatan pilihan kata itu, pengguna bahasa harus pula memperhatikan kesesuaian kata agar tidak merusak makna, suasana, dan situasi yang hendak ditimbulkan, atau suasana yang sedang berlangsung.

1.      kesesuaian kata:
 Menggunakan ragam baku dengan cermat dan tidak mencampuradukan,Menggunakannya dengan kata tidak baku yang hanya digunakan dalam pergaulan, misalnya: hakikat (baku), hakekat (tidak baku).  Menggunakan kata yang berhubungan dengan nilai sosial dengan cermat, misalnya: kencing (kurang sopan), buang air kecil (lebih sopan), pelacur (kasar), tunasusila (lebih halus).
         Menggunakan kata berpasangan (idiomatuik), dan berlawanan makna dengan cermat, misalnya: sesuai bagi (salah), sesuai dengan (benar), bukan hanya melainkan juga (benar), bukan hanya tetapi juga (salah), tidak hanya tetapi juga (benar).
         Menggunakan kata dengan nuansa tertentu, misalnya: berjalan lambat, mengesot, dan merangkak, merah darah; merah hati.


kesesuaian diksi adalah sebagai berikut:
         Hindarilah sejauh mungkin bahasa aatau unsur substandar dalam situasi yang formal. Artinya bahasa standar adalah semacam bahasa yang dapat dibatasi sebagai tutur dari mereka yang mengenyam kehidupan ekonomis atau menduduki status sosial yang cukup dalam suatu masyarakat. Kelas ini meliputi pejabat-pejabat pemerintah, ahli bahasa, ahli hukum, dokter, pedagang, guru, penulis, penerbit, seniman, insinyur, dan lain sebagainya.
Bahasa non st
andar adalah bahasa dari mereka yang tidak memperoleh pendidikan yang tinggi. Pada dasarnya, bahasa ini dipakai untuk pergaulan biasa, tidak di pakai dalam tulisan. Kadang unsur ini digunakan juga oleh para kaum pelajar dalam bersenda gurau, dan berhumor. Bahasa non stadar juga berlaku untuk suatu wilayah yang luas dalam wilayah bahasa standar.
Bahsa standar lebih efektif dari pada bahasa non standar. Bahasa non standar biasanya cukup untuk digunakan dalam kebutuhan-kebutuhan umum.
         Gunakanlah kata-kata ilmiah dalam situasi yang khusus saja. Dalam situasi yang umum hendaknya penulis dan pembicara mempergunakan kata-kata popular. Artinya, kata-kata yang umum yang dipakai oleh semua lapisan masyarakat, baik yang terpelajar maupun orang atau rakyat jelata. Maka kata ini dinamakan kata-kata populer. Kata-kata ini juga dipakai dalam pertemuan-pertemuan resmi, dalam diskusi-diskusi yang khusus, dan dalam diskusi-diskusi ilmiah.
Contoh:
Kata populer
, kata ilmiah
Sesuai
, Harmonis
Aneh
, Eksentrik
Bukti
, Argumen  Hindarilah jargon dalam tulisan untuk pembaca umum, jargon adalah suatu bahasa, dialek, atau struktur yang dianggap kurang sopan atau aneh. Jargon diartikan sebagai kata-kata teknis atau rahasia dalam suatu bidang ilmu tertentu, dalam bidang seni, perdagangan, kumpulan rahasia, atau kelompok-kelompok khusus lainnya.
Oleh karena jargon merupakan bahasa yang khusus sekali, maka tidak akan banyak artinya bila dipakai untuk suatu sasaran yang umum. Sebab itu, hendaknya dihindari sejauh mungkin unsur jargon dalam sebuah tulisan umum.
 Hindarilah ungkapan-ungkapan usang (idiom yang mati), Idiom adalah pola struktural yang menyimpang dari kaidah-kaidah bahasa yang umum, biasanya berbentuk frase, sedangkan artinya tidak bisa diterangkan secara logis, dengan bertumpu pada makna kata-kata yang membentuknya, misalnya: seorang asing yang sudah mengetahui makna kata makan dan tangan, tidak akan memahami makna perasa makan tangan. Siapa yang berfikir bahwa makan tangan sama artinya dengan kena tinju atau beruntung besar ? dan selanjutnya idiom-idiom yang menggunakan kata makan seperti: makan garam, makan hati, dan senagainya.











D.           Kalimat efektif
Pengertian Kalimat Efektif

      Kalimat efektif adalah kalimat yang mengungkapkan pikiran atau gagasan yang disampaikan sehingga dapat dipahami dan dimengerti oleh orang lain.

a.     Konsep kalimat efektif
Tujuan menulis adalh untuk mengukapkan fakta-fakta, perasaan, sikpa dan isi fikran secara jelas dan efektif kepada pembaca. Ada beberapa persoalan yang harus di perhatiakan dalam mencapai penulisan atau pengungkapan kalimat yang efektif:
1.      Penulisan harus memliki obyek yangakan dib ahs adalam tulisanya
2.      Memikirkan dan merenungkan gagasan atau ide secara jelas
3.      Mengembangkan gagasan-gsan itu secar segar, jelaa, dan terpernci
4.      Gagasan-gagasan tersebut, di tuangkan dalam bentuk kalimat-kalimat, yang baik dan cukup efektif mendukung  agasan-gagasan itu, agar oembaca dapt memanhami dann mengerti ddan dapt menghayati kembali secara jelas bagaimana gagasan-gagasan itu pada waktu pertama kali muncul dalam fikiran penulis atau pengarang
5.      Jika kalimatt-kalimt yang di tulis oleh penulis atau pengarang tersebut dapa mencpyakan gaya khayal dalam diri pembaca atau pendengar minimal dapat mendekai ap yang di fikrkan oleh penulis atau penngarang, maka dapat di katakana kalimat-kalimat tersebut suda memenuhi standar ke efektifan atau suda cukup baik menjalankan fungsingya

b.    Konsep kalimat efektif
Tujuan menulis adalh untuk mengukapkan fakta-fakta, perasaan, sikpa dan isi fikran secara jelas dan efektif kepada pembaca. Ada beberapa persoalan yang harus di perhatiakan dalam mencapai penulisan atau pengungkapan kalimat yang efektif:
6.      Penulisan harus memliki obyek yangakan dib ahs adalam tulisanya
7.      Memikirkan dan merenungkan gagasan atau ide secara jelas
8.      Mengembangkan gagasan-gsan itu secar segar, jelaa, dan terpernci
9.      Gagasan-gagasan tersebut, di tuangkan dalam bentuk kalimat-kalimat, yang baik dan cukup efektif mendukung  agasan-gagasan itu, agar oembaca dapt memanhami dann mengerti ddan dapt menghayati kembali secara jelas bagaimana gagasan-gagasan itu pada waktu pertama kali muncul dalam fikiran penulis atau pengarang
10.  Jika kalimatt-kalimt yang di tulis oleh penulis atau pengarang tersebut dapa mencpyakan gaya khayal dalam diri pembaca atau pendengar minimal dapat mendekai ap yang di fikrkan oleh penulis atau penngarang, maka dapat di katakana kalimat-kalimat tersebut suda memenuhi standar ke efektifan atau suda cukup baik menjalankan fungsingya

  
c.      Cirri-ciri kalimat efektif
Kalimat efektif selalu tetap berusaha agar gagasan pokok selalu mednapat tekanan atau penonjolan dalam fikiran pembaca dan pendengar. Sarat-sart kalimat efecktif:
a.       Kesatuan gagasan
b.      Koherensi
c.       Penekanan
d.      Variasi
e.       Paralelisme
f.       Penalaran atau logika
a.      Kalimat gagasan
kalimat yang baik adalh kalimat yang jelas memperlihatkan kesatuan gagasanya dan mengandungj satu ide pokok. Pada sebua kalimat tdak boleh terjadi perubahan dari satu kesatuan gagasan ke satuan gagasan-gagasan yang lain yg tidak ada keterkaitan. Apabila menyatukan dua kestuan gagasna yang tidak mempunyai keterkaitan, maka akan rusak kesatuan gagasan dalam sebua kalimat. Kesatuan gagasan dapat berbentuk dari dua gagasan pokok atauh lebih.

Contoh:
1.      Gagasan tunggal
kita dapat merasakan kehidupan sehari-hari, betapa emosi itu sering kali merupakan motivasi yang kuat dalam tindak kehidupan”
2.      Kesatuan gagasan gabungan
Dia telah pergi satu jam yang lalu, dan telah pergi bersam temanya”
3.      Kesatuan gagasan pilihan
kamu boleh memilih jurusan bahasa Indonesia, atau jurusan bahsa englis”
4.      Kesatuan gagasan pertentangan
sayah boleh tinggal di rumah ini, tetapi tdah harus mengikuti kemauan kalian”
b.   Koherensi
Kohernsi atau kepaduan adalah hubungan timbal-balik dan jelas antara unsur-unsur kata atau kelompok kata yang membentuk kalimat. bagaimana hubungan antara subjek dan predikat, serta keterangan-keterangan lain yang menjelaskan setap unsur tersebut. koherensi rusak karena kesalahan penempatan kata depan, kata gabungan yang tidak sesuai, penempatan keterangan aspek yang tidak sesuai, dan juga diksi.
1.      Koherensi kalimat rusak karena tempat kata dalam kalimat tidak sesuai dengan pola kalimat. “ adik saya yang palimg kecil memukul dengan sekuat tangannya kemarin pagi di kebun anjing”; “ anjing kemarin pagi di kebun adik saya memukul dengan sekuat tenaga “. Penempatan kata anjing merusak koherensi kalimat ini.
2.      Koherensi kalimat rusak karena salah satu menggunakan kata-kata depan, dan kata-kata penghubung misalnya, “ interaksi antara perkembangan kepribadian dan perkembangan penguasaan bahasa menentukan bagi pola kepribadian yang sedang berkembang. (tanpa bagi); “ sejak lahir manusia memiliki jiwa untuk melawan kepada kekejaman alam, atau kepada pihak lain karena merasa dirinya lebih hebat” (tanpa kepada).
3.      Koherensi kalimat rusak karena pemakaian kata seperti merangkaikan dua kata yang maknanya tidak tumpang tindih atau mengandung kontradiksi.misalnya, “banyak para peninjau yang menyatakan bahwa kegiatan yang sedang berlansung di gedung indoor UNG itu adala pertemuan alumni” (makna banyak dan para tidak tumpang tindih).
4.      Koherensi kalimat rusak karena salah menempatkan keterangan aspek: sudah,telah,akan,belum dan sebagainya pada kata kerja tangap. misalnya,”buku itu saya suda baca hinga tamat”. Penempatan kata sudah diantara kata saya dan baca kurang tepat,karena sebagai bentuk tanggap (saya baca) tadak boleh diselingi keterangan apapun karena hubungan keduanya sangat ketetat.
C. Penekan
Penekan dilakukan dilakukan ketika seseorang menggunakan bahasa baik secara lisan maupun secara tertulis. Dalam bahasa lisan, jika member tekanan pada sebuah kata, maka dapat menggunakan bahasa non-verbal seperti gerakan tangan, mimik, keras lembutnya suara dalam pengucapan kata atau menggunakan intonasi. Pada setiap kalimat tetap di dukung oleh subjek dan predikat. Unsur yang di pentingkan harus mendapat tekanan dan lebih di tonjolkan dari unsure-unsur yang lain. Berikut cara yang dapat digunakan untuk memberi penekanan baik dalam lisan maupaun dalam bahasa tulisan.
1.       Menguba posisi kata, kelompok kata, atau frasa dalam kalimat. Sebagai prinsip dikatakan bahwa semua kata, kelompok kata, atau frasa yang di tempatkan pada awal kalimat adalah yang di pentingkan. Berdasarkan prinsip ini maka untuk mencapai efek yang di inginkan sebuah kalimat dapat di ubah-ubah strukturnya dengan menempatkan kata, kelopok kata, atau frasa yang di pentingkan pada awal kalimat.
Contoh:kami berhap pada kesempatan lain dapat membicarakan lagi soal ini.
(a)    Soal ini, kami berharap kita bicarakan kita bicarakan pada kesempatan lain
(b)   Pada kesempatan lain, kami berharap persoala ini kita biasa bicarakan
(c)    Harapan kami, pada kesempatan lain kita dapat bicarakan lagi soal ini
(d)   Pembicaraan soal in , dapat kita bicarakan lagi pada ksempatan lain
2.       Menggunakan repatisi pada kata, kelompok kata, atau frasa dalam kalimat repatisi atau reduplikasi atau pengulangan kata, kelompok kata, atau frasa dalam sebuah kalimat.
Contoh: kemajuan menyangkut kemajuan di segala bidang, kemajuan kesadaran politik, kesadaran bermasyarakat, kesadaran berekonomi, kesadaran berkebudayaan, kesadaran beragama.
3.       Menggunakan pertentangan pada kata, kelompok kata, atau frasa dalam kalimat.
Contoh: (a) anak itu tidak malas dan curan, tetapi rajin dan jujur;(b) kami tidak menghendaki perbaikan yang bersifat timbale sulam, tetapi perbaikan yang menyeluruh di kampus ini.
4.       Menggunakan partikel penekanan pada kata, kelompok kata, atau frasa dalam kalimat. Partikel penekanan pada kata, kelompok kata, atau frasa dalam kalimat bahasa Indonesia berfungsi untuk menonjolkan gagasan atau ide dalam sebuah kalimat. Partikel-partikel itu terdiri atas: lah,pun,kah,dan tah.
Contoh:
(a)    Bacalah buku itu baik-baik!
(b)   Apakah yang tersirat dalam surat itu?
(c)    Siapakah gerangan dia?
(d)   Apatah gunanya bersedih hati?
c.   Variasi
Variasi digunakan untuk tidak membosankan para pembaca atau pendengar ketika seseorang berbahasa. Variasi dalam kalimat dapat di peroleh dengan cara sebagai berikut:
1)      Variasi penggunaan sinonim
(a)   Berdasarkan renungan itulah penyair menemukan suatu makna,suatu realitas yang baru, suatu kebenaran yang menjadi ide sentrel menjiwai seluru puisi. (KFR, 44)
2)      Variasi penggunaan kalimat panjang dan pendek
3)      Variasi penggunaan bentuk me dan di
4)      Variasi dengan mengubah posisi dan kalimat
d.  Paralelisme
Paralelisme atau kesejajaran bentuk membantu memberi kejelasan dalam unsur gramatikal degan mempertahankan bagian-bagian yang sederajat dalam mkontruksi yang sama.
Contoh :
1.      Tahap terakhirr dari penyelsaian gedung FBS itu adalah: pengecetan seluruh temboknya pemasangan penerangan, pengujian  system bagaian akhi dan penataan ruanganaya .(parallel)
e.   Penalaran atau logika
Struktur gramatikal yang baik merupakan alat untuk merangkaikan sebuah pikiran atau maksud dengan sejelas_jelsasnya. Tetapi dalam kenyataan ada pula orang yang tanpa mempelajari struktur gramatikal suatau bahasa hal ini menujukan ada insur lain yang harus di perhatikan dalam pemakain suatu bahasa, yaitu penalaran atau logika

 Definisi (batasan)
Definisi batasa atau batsasn yang tepat merupakan kkunci dari berpikir, cirri berpikir yang logis dan juga mejadi cirri menulis yang logis.setiap pembaca iingin mengetahui bagaimana batasan arti dari suatu istilah sebelum melangkakah lebih jauh untuk memahami suatu maknanya definisi terdiri atas:
a.       Definisi berupa sinonim kata (pendidikan=pengajaran; kemerdekaan=kebebasan ;
b.      definis berdasarkan etimologi atau asal usul kata (referendum berasal dari kata latin re + fere yang berarti membawa kembali
Generalisai
Generalisasi adalah suatu pernyataan yang mengatakan bahwa apa yang benar mengenai beberapa hal yang sama . mebuat generasi agar lebih berhati-hati dalam mengunakan kat-kata seperti selalu, tidak pernah, semua, tidak ada, benar atau salah, generalisai seperti in di sebut generasi luas.
(a)    Orang yang luar biasa radikal pada masa mudanya selalu menjadi konserpatif bila suda memperoleh harta dan kekuasann (generalisai yang berlebihan.)
(b)   Bahkan pemuda-pemuda yang sangat radikal pun tampaknya akan menjadi komserpatif bila suda memporoleh harta dan kekayaan ( generalisai yang baik)

Menurut wijono (2012-205) cirri-ciri kalimat efektif adalah sebagai berikut
1.      Ketuhanan
2.      Kesejatraan
3.      Kefokusan
4.      Kehematan pengunaan unsure kalimat
5.      Kecermatan dan kesantunan
6.      Kefariasian kata dan struktur sehingga menghasilkan kesegaran bahasa



d.    Makna
a.      Hakikat mkna
Bahasa berkembang sesuai tuntutan masayarakat memakainya.
Pengembangan diksi terjadi pada kata. Namun, haal ini berpengaruh kepada pada penyususunan kalimat, paragraf dan wacana. Pengembangan tersebut di lakukan untuk memenuhi kebutuhan komuniasi.

Factor-faktor penyebab perubahan makna adalah sebai berikiut:
a.      Kebahsaan
Perubahan makna yang di timbulkan oleh factor kebahasaan meliputi perubahan intonasi, frasa, bentuk kata, dan bentuk kalimat.
1.      Perubahan intonasi adalah perubahan makna yang di akibatkan oleh perubahan nada, irama dan tekanan
2.      Perubahan struktur data frasa: kaleng susu (kaleng bekas tempt susu).
3.      Perubahan bentuk kata adalah perubahan makna yang di timbulkan oleh perubahan bentuk , misalnya : tua (tidak muda) jika di timbale awalan ke- menjadi ketua.
4.      Kalimat akan berubah makana jika strukturnya berubah.
b.      Kesejarahan
Kata perempuan pada zaman penjajahan jepang di gunakan untuk menyebut  perempuan penghibur.orang penggantinya dengan kta wanita.
c.       Kesosialan
Masalah social berpengaruh terhadap perubahan makna.kata gerombolan yang pada mulanya bermakna orang berkumpul atau kerumun. Kemudian, kata itu tdak digunakan karena berkonotasi dengan pemberontak,perampok dan sebagainya.
d.      Kejiwaan
Perubahan makna karena faktor kejiwaan ditimbulkan oleh pertimbangan, (1) rasa takut (2) kehalisan ekspresi, dan (3) kesopanan.
e.       Bahasa asing
Perubahan makna karena factor bahasa asing, misalnya, kata tempat orang terhormat diganti dengan VIP.
f.       Kata baru
Kreatifitas pemakai bahasa berkembang terus sesuai dengan kebutuhannya. Kebutuhan tersebut memerlukan bahasa sebagai alat ekspresi dan komunikasi.
b.      Denotasi dan konotasi
a.      Makna Denotasi
Makna Denotasi merupakan makna kata yang sesuai dengan makna yang sebenarnya atau sesuai dengan makna kamus.
         Contoh :
     Adik makan nasi.
              Makan artinya memasukkan sesuatu ke dalam mulut.
     Adik minum susu setiap pagi supaya sehat 
              Makna denotasinnya adalah kata Minum 
     Harga kambing hitam itu sangat mahal
      Makna denotasinya adalah kambing yang berwarna hitam

b.       Makna Konotasi

Makna Konotasi merupakan makna yang bukan sebenarnya dan merujuk pada hal yang lain. Makna konotasi adalah makna kiasan.
1.      Dalam peristiwa itu, dia dijadikan kambing hitam. (kambing hitam bermakna orang yang dipersalahkan)
2.      Anak itu berangkat besar ketika ayahnya pergi ke Jepang. ( berangkat bermakna beranjak atau mulai menjadi )
3.      Bunga desa itu sudah menjadi karyawan bank.(Kata “bunga desa” bermakna sesuatu yang dianggap cantik) 

Berikut adalah contoh-contoh kata yang bermakna denotasi dan konotasi

1) meluap

denotasi : Banjir yang terjadi kemarin disebabkan oleh air sungai yang meluap tak mampu dikendalikan oleh  tanggul yang ada disekitanya.
konotasi : Kemarahan Pak Budi makin hari tambah meluap karena masalah yang diperbantahkan itu tidak pernah  menemukan titik permasalahannya.

2) penuh

denotasi : Lokasi yang akan dijadikan sebagai tempat pusat hiburan itu telah terisi penuh oleh pemukiman  penduduk.
konotasi : Pekerjaan itu dilakukannya dengan penuh rasa tanggung jawab.
3)naik
denotasi : Pak Halim pergi ke Makassar dengan naik mobil pribadi.
konotasi : Naik turunnya harga barang sangat dipengaruhi oleh jumlah permintaan konsumen.
4) tumbuh
denotasi : Pohon mangga yang tumbuh di halaman rumah Pak Ilham memiliki buah yang besar-besar.
konotasi : Kondisi perekonomian Indonesia mulai tumbuh sejak beralihnya sistem pemerintahan ke era reformasi.
5) atas
denotasi : Di atas pohon yang rindang itu ada terdapat beberapa sarang burung hantu.
konotasi : Irama yang muncul pada permukaan tembok itu ditimbulkan atas beberapa perpaduan warna
6) kendali
denotasi : Nakhoda memberikan instruksi kepada para penumpang kapal agar waspada, sebab kendali dalam kapal
c.                        sedang mengalami gangguan.
konotasi : Peristiwa itu terjadi saat dirinya telah kehilangan kendali.(kontrol)
7) panas
denotasi : Permukaan kulit pada anak itu lecet akibat tersiram air panas.
konotasi : Suhu dalam ruangan itu semakin panas ketika peserta diskusi dalm ruangan itu saling beradu argumen.
d.                       (panas=ketegangan)
e.       8) hancur
denotasi : Mainan anak pak lurah hancur terinjak mobil.
konotasi : Semua perkataannya kedengaran hancur akibat terbawa emosi .(hancur= tidak masuk akal).
9) arus
denotasi : Adik terseret arus yang sangat deras saat menyeberang sebuah sungai di tepi rumahnya.
konotasi : Arus balik pada lebaran tahun depan diprediksikan akan lebih banyak dibandingkan tahun kemarin.   
f.                       (arus=sistem)
10) hangus
denotasi : Bau hangus itu dihasilkan dari pembakaran sisa-sisa plastik dan kertas yang ada di tepi jalan itu.
konotasi : Semua dana yang dianggarkan telah hangus akibat program kerja yang tidak tertata dengan rapi. (hangus=ludes)

A.     Sisnonim
Sinonim adalah persamaa makna kata. Artinya, dua kata atau lebih yang berbeda bentuk, ejaan, dan pengucapanya, tapi makna sama . misalnya, wanita bersinonim dngan dengan perempuan, makna sama tetapi berbeda tulisan maupun pengucapanya , adapun beberapa contoh yaitu:
a.       Hamil,bunting
b.      Hasil,produksi,presen tasi,keluaran
c.       Kecil,mikro,minor,mugil
d.      Korupsi,mencuri
e.       Strategi,tknik,tektik,siasat,kebijakan
f.        Terminal,halte,perhentian,stasiun,pangaklan,pos
g.       Melihat,menonton,menjenguk,melirik,memandang,perhatikan menngintip,menegok.


Jadi kesinoniman mutlak jarang di temukan dalam perbendaharaan kata bahsa indonesiaan. Ketidak mungkinaan menukar sebua kata dengan kata lain yang bersinonim di sebabkan oleh berbgai alasan: waktu,tempat,kesopanan,suasana batin,dan nuansa manka. Perhatikan contoh berikut: kegiatan, kesopanan,nuansa makna, tempat atau daerah, dan waktu.
1.      Kesopanan, misaknya: saya,aku.
2.      Kegiatan, msisalnya: aman tentram,mataharisurya.
3.      Nuansamakna,misalnya:melihat,melirik,melutu,meninjau,menginip;penginapan,hotel,motel, losmen; mantan, bekas.
4.      Tempat atau daerah, misalnya kata: saya,beta.
5.      Waktu, misalnya: pasar hamper bersinonim dengan konsummen atu pelangan.pasar pada masa lalu berarti tempatt orang menjual beli.sedangkan pasar pada situasi masa sekarang, mengalami perluasan bukan hanya tempat berjual beli, tetapi juga berarti pemaka produk, konsummen, atau pelanggan

Dua kata bersinonim atau hampir bersinonim tidak gunakan dalam sebuah frasa. Misalanya: adalah merupakan, agar suapaya, bagi utuk, adalah yaitu, yth. kepada. Dalam sebua kalimat,pengguanaan kedua kata tersebut,misalnya:
a)      Kucing adalah merupakan binatang buas.(salah)
b)      Kepada Yth. Bapak nurhadi (salah)
c)      Ia berkerja keras agar supaya sukses.(salah)
Pengunaan kata bersinonim adalah sebua frasa tersebut salah, seharusmya:
1)      Kucing adalah binatang buas (benar)
2)      Kepada bapak nur hadi (benar) Yth bapak nur hadi (benar)
3)       Bagi saya , pendapat itu salah (benar) untuk saya, pendapat itu slah (benar)

BAB II

A.      KESIMPULAN
1.      Diksi adalah ketepatan pemilihan kata di pengaruhi oleh kemampuan pangguna bahasa yang terkait dengan kemampuan yang memahami, mengetahui, menguasai dan penggunaan kata aktif dan efektif kepada pembaca dan pendengarnya.
2.      Makna denotasi adalah makna yang sebenarnya yang sama dengan makna lugas untuk menyampaikan sesuatu yang bersifat faktual. Makna pada kalimat yang denotatif tidak mengalami perubahan makna.
3.      Makna konotasi adalah makna yang bukan sebenarnya yang umumnya bersifat sindiran dan merupakan makna denotasi yang mengalami penambahan.
4.      Makna umum adalah makna yang memiliki ruang lingkup cakupan yang luas dari kata yang lain.
5.      Makna khusus adalah makna yang memiliki ruang lingkup cakupan yang sempit dari kata yang lain.
6.      Kata makna bersinonim
Kata bersinonim adalah kata yang bentuknya berbeda namun pada dasarnya memiliki makna yang hampir mirip atau serupa.
7.      Homonim artinya sama, nym berarti nama, jdi homonim adalah sama nama.
8.      Homofon adalah Bunyi atau suara yang mempunyai sama, berbeda tulisan dan berbeda makna.
9.      Homograf adalah Sama tulisan, berbeda bunyi dan berbeda makna.








B.      KRITIK DAN SARAN
a.      Kritik
Pada dasarnya masyarakat kita telah memahami penggunaan tata kaidah bahasa indonesia yang baik dan benar, akan tetapi dalam pelaksanaannya seringkali masyarakat dihadapkan pada situasi dan kokondisi  berbahasa yang tidak mendukung.
maksudnya ialah masyarakat masih enggan untuk mengikuti kaidah tata bahasa Indnesia yang baik danbenar dalam komunikasinya sehari-hari,masyarakat sering terdikte oleh aturan-aturan tata bahasa yang salah.

b.      Saran
Dengan berpedoman pada EYD, khususnya cara pelafalan huruf hendaknya mengikuti aturan yang sudah dibakukan.
Untuk membaca singkatan kata (termasuk kata asing selain akronim),begitu juga dengan dalam pemilihan kata (diksi ) yang dibaca huruf demi huruf, jika penutur sedang berbahasa Indonesia, pelafalannya harus sesuai dengan lafal huruf bahasa Indonesia.
















DAFTAR PUSTAKA

Heryati, Yeti, Cecep Wahyu, Enung K. Rukianti, Heri Jauhari.2013.  Bahasa Indonesia. Bandung : BCM Digital Printing.
Matakristal.com
Yandianto. 2001.  Kamus Umum Bahasa Indonesia. Bandung : M2Sl. 37



Komentar