MAKALAH DIKSI
MAKALAH
DISK, KALIMAT DAN MAKNA
Oleh :
Kelompok 3
Rusman
idrus
Panji nur
iksan
Feby
Iskandar
N. Id
JURUSAN PENDIDIKAN TEKNOLOGI
INFORMAIS FAKULTAS TEKNIK
UNIFERSITAS NEGRI GORONTALO
2016-1017
KATA PENGANTAR
KATA PENGANTAR
Puji dan
syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan
karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul “Diksi atau Pilihan Kata” . Penulisan makalah ini bertujuan untuk
memenuhi salah satu tugas dari Dosen Mata Kuliah Bahasa Indonesia Bapak Drs.
Dendih Fredi Firdaus, M.Pd
Makalah ini
ditulis berdasarkan berbagai sumber yang
berkaitan dengan materi diksi, serta infomasi dari berbagai media yang
berhubungan dengan diksi atau pilihan kata.
Tak lupa
penulis sampaikan terima kasih kepada pengajar mata kuliah Bahasa Indonesia
atas bimbingan dan arahan dalam penulisan makalah ini. Dan juga kepada
rekan-rekan mahasiswa yang telah memberikan masukan dan pandangan, sehingga
dapat terselesaikannya makalah ini.
Penulis
berharap makalah ini dapat menambah wawasan mengenai Bahasa Indonesia terutama
materi mengenai Diksi atau Pilihan kata. Sehingga kita saat berkomunikasi, kita
dapat meminimalisir kesalah pahaman yang akan terjadi yang dikarenakan bahasa
yang kita gunakan. Dan penulis berharap bagi pembaca untuk dapat memberikan
pandangan dan wawasan agar makalah ini menjadi lebih sempurna.
DAFRAT ISI
Kata
Pengantar .......................................................................................................................
Daftar
Isi................................................................................................................................
BAB
I.....................................................................................................................................
1.
Pendahuluan...............................................................................................................
2.
Latar
Belakang............................................................................................................
3.
Rumusan
masalah.......................................................................................................
4.
Tujuan........................................................................................................................
BAB
II ...................................................................................................................................
Pembahasan............................................................................................................................
1.
Diksi...........................................................................................................................
2.
Kalimat
efekif............................................................................................................
3.
Makna
.......................................................................................................................
BAB
III...................................................................................................................................
1.
Kesimpulan................................................................................................................
2.
Kritikan
dan Saran......................................................................................................
1.
Daftar
pustaka............................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Harus diakui
saat ini orang sering mengesampingkan pentingnya penggunaan bahasa,
terutama dalam tata cara pemilihan kata atau diksi. Kita pun sering
mengalami kesalahan. Hal itu terjadi karena kita tidak mengetahui pentingnya
menguasai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Penggunaan diksi sangat penting
agar terciptanya komunikasi yang efektif. Hal itu agar terciptanya komunikasi
yang efektif dan efisien dan untuk menghindari kesalah pahaman saat
berkomunikasi. Manusia merupakan makhluk sosial sehingga kita tidak dapat
terlepas dariberkomunikasi dengan sesama dalam setiap aktivitas kehidupan.
Tetapi tidak jarang pula ketika sedang berkomunikasi lawan komunikasi saat berkomunikasi mengalami
kesulitan menangkap informasi, hal ini terjadi karena kata yang digunakan
kurang tepat ataupun rancu sehingga menimbulkan kesalahpahaman.
Pemilihan kata yang tepat merupakan
sarana pendukung dan penentu keberhasilan dalam berkomunikasi. Pilihan kata
atau diksi bukan hanya soal pilih-memilih kata, melainkan lebih mencakup
bagaimana efek kata tersebut terhadap makna dan informasi yang ingin
disampaikan. Pemilihan kata tidak hanya digunakan dalam berkomunikasi namun juga
digunakan dalam bahasa tulis (jurnalistik). Dalam bahasa tulis pilihan
kata (diksi) mempengaruhi pembaca mengerti atau tidak dengan kata-kata yang
kita pilih.
Dalam makalah ini, penulis berusaha
menjelaskan mengenai diksi yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari baik. Hal
itu dilakukan untuk meminimalisir kesalahan yang terjadi saat berkomunikasi.
1.2 Rumusan
masalah
Pengertian
Diksi atau pilihan kata
Pembagian
Diksi atau pilihan kata
1.3 Tujuan
Mengetahui
pengertian diksi
Mampu
menggunakan bahasa yang tepat dalam berkomunikasi.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
DIKSI
PENGERTIAN DIKSI
Diksi dalam artian yang pertama, merujuk
pada pemilihan kata dan gaya ekspresi
oleh penulis pembicara. Atinya yang kedua adalah enusiansi
kata.1
seni bicara yang jelas sehingga dapat di pahami oleh
pendengar.2
Pengertian diksi atau pilihan kata
jauh lebih luas dari apa yang di pantulkan oleh jalinan kata-kata itu. Istilah
ini bukan saja di pergunakan untuk menyatakan kata-kata mana yang di pakai
untuk mengungkapkan suatu ide atau gagasan tetapi juga meliputi fraseeologi,
gaya bahasa yang di ungkapkan. Fraseologi mencakup pesoalan kata-kata
pengelompokan atau susunannya atau yang menyangkut cara-cara yang khusus
berbentuk ungkapan-ungkapan.
Selain
itu diksi menurut pendapat lain adalah ketepatan pemilihan kata di pengaruhi
oleh kemampuan pangguna bahasa yang terkait dengan kemampuan yang memahami,
mengetahui, menguasai dan penggunaan kata aktif dan efektif kepada pembaca dan
pendengarnya
B. DIKSI DAN GAYA
BAHASA
GAYA BAHASA
Gaya bahasa
atau ranggam bahasa dan sering juga disebut
majas adalah cara penutur mengungkapkan maksudnya. Banyak cara yang dapat
dipakai untuk mengungkapkan maksud. Ada cara yang memakai perlambang (majas
metafora, personifikasi) ada cara yang menekankan kehalusan (majas eufemisme,
litotes) dam masih banyak lagi majas yang lainnya. Semua itu pada prinsipnya
merupakan corak seni berbahasa untuk menimbulkan kesan tertentu bagi mitra
komunikasi kita (pembaca/pendengar).
Sebelum
menampilkan gaya tertentu ada enam faktor yang mempengaruhi tampilan bahasa
seorang komunikator dalam berkomunikasi dengan mitranya, yaitu :
a) Cara dan media komunikasi : lisan atau tulisan, langsung atau
tidak langsung, media cetak atau media elektronik.
b) Bidang ilmu : filsafat, sastra, hukum, teknik, kedokteran, dll.
c) Situasi : resmi, tidak resmi, setangah resmi.
d) Ruang atau konteks : seminar, kuliah, ceramah, pidato.
e) Khalayak : dibedakan berdasarkan umur (anak-anak, remaja, dewasa,
orang tua); jenis kelamin (laki-laki, perempuan); tingkat pendidikan dan status
sosial (rendah, menengah, tinggi).
f) Tujuan : membangkitkan emosi, diplomasi, humor, informasi.
GAYA BAHASA
BERDASARKAN PILIHAN KATA
Berdasarkan pilihan kata, gaya bahasa mempersoalkan kata mana yang paling
tepat dan sesuai untuk posisi-posisi tertentu dalam kalimat, serta tepat
tidaknya penggunaan kata-kata dilihat dari lapisan pemakaian bahasa dalam
masyarakat. Dengan kata lain, gaya bahasa ini mempersoalkan ketepatan dan
kesesuaian dalam menghadapi situasi-situasi tertentu.
Dalam bahasa standar (bahasa baku)
dapatlah dibedakan menjadi :
a. Gaya Bahasa Resmi
Gaya bahasa
resmi adalah gaya bahasa dalam bentuknya yang lengkap, gaya yang dipergunakan
dalam kesempatan-kesempatan resmi, gaya yang dipergunakan oleh mereka yang
diharapkan mempergunakannya dengan baik dan terpelihara. Gaya bahasa resmi
biasa kita jumpai dalam penyampaian amanat kepresidenan, berita negara,
khotbah-khotbah mimbar, tajuk rencana, pidato-pidato yang penting,
artikel-artikel yang serius atau esai yang memuat subyej-subyek yang penting,
semuanya dibawakan dengan gaya bahasa resmi.
Contoh dalam pembukaan UUD 1945,
Bahwa sesungguhnya kemerdekaan ini ialah hak segala
bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan,
karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.
Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan bangsa Indonesia
telah sampailah kepada saat yang berbahagai dengan seelamat sentausa
mengantarkan rakyat Indonesia kedepan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu,
berdaulat, adil dan makmur. ...(selanjutnya)
b. Gaya Bahasa Tak Resmi
Gaya bahasa tak resmi juga merupakan
gaya bahasa yang dipergunakan dalam bahasa standar, khususnya dalam
kesempatan-kesempatan yang tidak formal atau kurang formal. Gaya bahasa ini
biasanya dipergunakan dalam karya-karya tulis, buku-buku pegangan,
artikel-artikel mingguan atau bulanan yang baik, dalam perkuliahan, dan
sebagainya. Singkatnya gaya bahasa tak resmi adalah gaya bahasa yang umum dan
normal bagi kaum terpelajar.
Contoh :
Sumpah pemuda yang dicetuskan pada tanggal 28 Oktober
1928 adalah peristiwa nasional, yang mengandung benih nasionalisme. Sumpah
Pemuda dicetuskan pada zaman penjajahan. Nasionalisme pada zaman penjajahan
mempunyai watak khusus yakni anti penjajahan. Peringatan kepad Sumpah Pemuda
sewajarnya berupa usaha merealisasikan gagasan-gagasan Sumpah Pemuda.
c. Gaya Bahasa Percakapan
Dalam gaya
bahasa percakapan, pilihan katanya adalah kata-kata populer dan kata-kata
percakapan. Kalau dibandingkan dengan gaya bahasa resmi dan tak resmi, maka
gaya bahasa percakapan ini dapat diumpamakan sebagai bahasa dalam pakaian
sport. Itu berarti bahasanya masih lengkap untuk suatu kesempatan, dan masih
dibentuk menurut kebiasaan-kebiasaan, tetapi kebiasaan ini agak longgar bila
dibandingkan dengan kebiasaan pada gaya bahasa resmi dan tak resmi.
Contoh berikut
adalah hasil rekaman dari sebuah diskusi dalam seminar Bahasa Indonesia tahun
1996 di Jakarta :
Pertanyaan yang pertama, di sini memang sengaja saya tidak membedakan
antara istilah jenis kata atau word classes atau parts of speech. Jadi
ketiganya saya artikan sama di sini. Maksud saya ialah kelas-kelas kata, jadi
penggolongan kata, dan hal itu tergantung kepada dari mana kita melihat
dan dasar apa yang kita pakai untuk
menggolongkannya. .......(selanjutnya)
C.
ketetapan pilihan kata:
Membedakan
makna denotasi dan konotasi yang cermat,
Membedakan
secara cermat makna kata yang hampir bersinonim, misalnya: adalah, ialah,
merupakan, yaitu, dalam pemakaiannya berbeda- beda.
Membedakan makna kata secara cermat kata yang mirip
ejaannya, misalnya: inferensi (kesimpulan ), dan interferensi (saling
mempengaruhi ), sarat ( penuh, bunting ) dan syarat ( ketentuan ).
Menggunakan
imbuhan asing ( jika diperlukan ) harus memahami maknanya secara tepat,
misalnya: dilegalisir seharusnya dilegalisasi, koordinir seharusnya koordinasi.
Menggunakan kata-kata idomatik berdasarkan susunan (
pasangan ) yang benar, misalnya: sesuai bagi seharusnya sesuai dengan. Menggunakan
kata umum dan khusus secara cermat. Untuk mendapatkan pemahaman yang spesifik
karangan ilmiah sebaiknya menggunakan kata khusus ke umum mislnya mobil ( kata
umum ) , corolla ( sedan buatan Toyota ).
Selain
ketepatan pilihan kata itu, pengguna bahasa harus pula memperhatikan kesesuaian
kata agar tidak merusak makna, suasana, dan situasi yang hendak ditimbulkan,
atau suasana yang sedang berlangsung.
1.
kesesuaian kata:
Menggunakan ragam baku dengan cermat dan tidak
mencampuradukan,Menggunakannya dengan kata tidak baku yang hanya digunakan
dalam pergaulan, misalnya: hakikat (baku), hakekat (tidak baku). Menggunakan kata yang berhubungan dengan nilai sosial
dengan cermat, misalnya: kencing (kurang sopan), buang air kecil (lebih sopan),
pelacur (kasar), tunasusila (lebih halus).
Menggunakan kata berpasangan
(idiomatuik), dan berlawanan makna dengan cermat, misalnya: sesuai bagi
(salah), sesuai dengan (benar), bukan hanya melainkan juga (benar), bukan hanya
tetapi juga (salah), tidak hanya tetapi juga (benar).
Menggunakan kata dengan nuansa
tertentu, misalnya: berjalan lambat, mengesot, dan merangkak, merah darah;
merah hati.
kesesuaian diksi adalah sebagai berikut:
Hindarilah
sejauh mungkin bahasa aatau unsur substandar dalam situasi yang formal. Artinya bahasa standar adalah semacam bahasa yang dapat dibatasi
sebagai tutur dari mereka yang mengenyam kehidupan ekonomis atau menduduki
status sosial yang cukup dalam suatu masyarakat. Kelas ini meliputi
pejabat-pejabat pemerintah, ahli bahasa, ahli hukum, dokter, pedagang, guru,
penulis, penerbit, seniman, insinyur, dan lain sebagainya.
Bahasa non standar adalah bahasa dari mereka yang tidak memperoleh pendidikan yang tinggi. Pada dasarnya, bahasa ini dipakai untuk pergaulan biasa, tidak di pakai dalam tulisan. Kadang unsur ini digunakan juga oleh para kaum pelajar dalam bersenda gurau, dan berhumor. Bahasa non stadar juga berlaku untuk suatu wilayah yang luas dalam wilayah bahasa standar.
Bahsa standar lebih efektif dari pada bahasa non standar. Bahasa non standar biasanya cukup untuk digunakan dalam kebutuhan-kebutuhan umum.
Bahasa non standar adalah bahasa dari mereka yang tidak memperoleh pendidikan yang tinggi. Pada dasarnya, bahasa ini dipakai untuk pergaulan biasa, tidak di pakai dalam tulisan. Kadang unsur ini digunakan juga oleh para kaum pelajar dalam bersenda gurau, dan berhumor. Bahasa non stadar juga berlaku untuk suatu wilayah yang luas dalam wilayah bahasa standar.
Bahsa standar lebih efektif dari pada bahasa non standar. Bahasa non standar biasanya cukup untuk digunakan dalam kebutuhan-kebutuhan umum.
Gunakanlah
kata-kata ilmiah dalam situasi yang khusus saja. Dalam situasi yang umum
hendaknya penulis dan pembicara mempergunakan kata-kata popular. Artinya, kata-kata yang umum yang dipakai oleh semua lapisan
masyarakat, baik yang terpelajar maupun orang atau rakyat jelata. Maka kata ini
dinamakan kata-kata populer. Kata-kata ini juga dipakai dalam
pertemuan-pertemuan resmi, dalam diskusi-diskusi yang khusus, dan dalam
diskusi-diskusi ilmiah.
Contoh:
Kata populer, kata ilmiah
Sesuai, Harmonis
Aneh, Eksentrik
Bukti, Argumen Hindarilah jargon dalam tulisan untuk pembaca umum, jargon adalah suatu bahasa, dialek, atau struktur yang dianggap kurang sopan atau aneh. Jargon diartikan sebagai kata-kata teknis atau rahasia dalam suatu bidang ilmu tertentu, dalam bidang seni, perdagangan, kumpulan rahasia, atau kelompok-kelompok khusus lainnya.
Oleh karena jargon merupakan bahasa yang khusus sekali, maka tidak akan banyak artinya bila dipakai untuk suatu sasaran yang umum. Sebab itu, hendaknya dihindari sejauh mungkin unsur jargon dalam sebuah tulisan umum.
Contoh:
Kata populer, kata ilmiah
Sesuai, Harmonis
Aneh, Eksentrik
Bukti, Argumen Hindarilah jargon dalam tulisan untuk pembaca umum, jargon adalah suatu bahasa, dialek, atau struktur yang dianggap kurang sopan atau aneh. Jargon diartikan sebagai kata-kata teknis atau rahasia dalam suatu bidang ilmu tertentu, dalam bidang seni, perdagangan, kumpulan rahasia, atau kelompok-kelompok khusus lainnya.
Oleh karena jargon merupakan bahasa yang khusus sekali, maka tidak akan banyak artinya bila dipakai untuk suatu sasaran yang umum. Sebab itu, hendaknya dihindari sejauh mungkin unsur jargon dalam sebuah tulisan umum.
Hindarilah
ungkapan-ungkapan usang (idiom yang mati),
Idiom adalah
pola struktural yang menyimpang dari kaidah-kaidah bahasa yang umum, biasanya
berbentuk frase, sedangkan artinya tidak bisa diterangkan secara logis, dengan
bertumpu pada makna kata-kata yang membentuknya, misalnya: seorang asing yang
sudah mengetahui makna kata makan dan tangan, tidak akan memahami makna perasa
makan tangan. Siapa yang berfikir bahwa makan tangan sama artinya dengan kena
tinju atau beruntung besar ? dan selanjutnya idiom-idiom yang menggunakan kata
makan seperti: makan garam, makan hati, dan senagainya.
D.
Kalimat efektif
Pengertian Kalimat Efektif
Kalimat efektif adalah kalimat yang mengungkapkan pikiran atau gagasan yang disampaikan sehingga dapat dipahami dan dimengerti oleh orang lain.
a.
Konsep kalimat efektif
Tujuan
menulis adalh untuk mengukapkan fakta-fakta, perasaan, sikpa dan isi fikran
secara jelas dan efektif kepada pembaca. Ada beberapa persoalan yang harus di
perhatiakan dalam mencapai penulisan atau pengungkapan kalimat yang efektif:
1.
Penulisan
harus memliki obyek yangakan dib ahs adalam tulisanya
2.
Memikirkan
dan merenungkan gagasan atau ide secara jelas
3.
Mengembangkan
gagasan-gsan itu secar segar, jelaa, dan terpernci
4.
Gagasan-gagasan
tersebut, di tuangkan dalam bentuk kalimat-kalimat, yang baik dan cukup efektif
mendukung agasan-gagasan itu, agar
oembaca dapt memanhami dann mengerti ddan dapt menghayati kembali secara jelas
bagaimana gagasan-gagasan itu pada waktu pertama kali muncul dalam fikiran
penulis atau pengarang
5.
Jika
kalimatt-kalimt yang di tulis oleh penulis atau pengarang tersebut dapa
mencpyakan gaya khayal dalam diri pembaca atau pendengar minimal dapat mendekai
ap yang di fikrkan oleh penulis atau penngarang, maka dapat di katakana
kalimat-kalimat tersebut suda memenuhi standar ke efektifan atau suda cukup
baik menjalankan fungsingya
b.
Konsep
kalimat efektif
Tujuan
menulis adalh untuk mengukapkan fakta-fakta, perasaan, sikpa dan isi fikran
secara jelas dan efektif kepada pembaca. Ada beberapa persoalan yang harus di
perhatiakan dalam mencapai penulisan atau pengungkapan kalimat yang efektif:
6.
Penulisan
harus memliki obyek yangakan dib ahs adalam tulisanya
7.
Memikirkan
dan merenungkan gagasan atau ide secara jelas
8.
Mengembangkan
gagasan-gsan itu secar segar, jelaa, dan terpernci
9.
Gagasan-gagasan
tersebut, di tuangkan dalam bentuk kalimat-kalimat, yang baik dan cukup efektif
mendukung agasan-gagasan itu, agar
oembaca dapt memanhami dann mengerti ddan dapt menghayati kembali secara jelas
bagaimana gagasan-gagasan itu pada waktu pertama kali muncul dalam fikiran
penulis atau pengarang
10. Jika kalimatt-kalimt yang di
tulis oleh penulis atau pengarang tersebut dapa mencpyakan gaya khayal dalam
diri pembaca atau pendengar minimal dapat mendekai ap yang di fikrkan oleh
penulis atau penngarang, maka dapat di katakana kalimat-kalimat tersebut suda
memenuhi standar ke efektifan atau suda cukup baik menjalankan fungsingya
c.
Cirri-ciri kalimat efektif
Kalimat
efektif selalu tetap berusaha agar gagasan pokok selalu mednapat tekanan atau
penonjolan dalam fikiran pembaca dan pendengar. Sarat-sart kalimat efecktif:
a.
Kesatuan
gagasan
b.
Koherensi
c.
Penekanan
d.
Variasi
e.
Paralelisme
f.
Penalaran
atau logika
a. Kalimat gagasan
kalimat
yang baik adalh kalimat yang jelas memperlihatkan kesatuan gagasanya dan
mengandungj satu ide pokok. Pada sebua kalimat tdak boleh terjadi perubahan
dari satu kesatuan gagasan ke satuan gagasan-gagasan yang lain yg tidak ada
keterkaitan. Apabila menyatukan dua kestuan gagasna yang tidak mempunyai
keterkaitan, maka akan rusak kesatuan gagasan dalam sebua kalimat. Kesatuan
gagasan dapat berbentuk dari dua gagasan pokok atauh lebih.
Contoh:
1.
Gagasan
tunggal
“kita dapat merasakan kehidupan sehari-hari,
betapa emosi itu sering kali merupakan motivasi yang kuat dalam tindak
kehidupan”
2. Kesatuan gagasan gabungan
“Dia telah pergi satu jam yang lalu, dan telah pergi bersam temanya”
3. Kesatuan gagasan pilihan
“kamu boleh memilih jurusan bahasa Indonesia,
atau jurusan bahsa englis”
4. Kesatuan gagasan pertentangan
“sayah boleh tinggal di rumah ini, tetapi
tdah harus mengikuti kemauan kalian”
b. Koherensi
Kohernsi
atau kepaduan adalah hubungan timbal-balik dan jelas antara unsur-unsur kata
atau kelompok kata yang membentuk kalimat. bagaimana hubungan antara subjek dan
predikat, serta keterangan-keterangan lain yang menjelaskan setap unsur
tersebut. koherensi rusak karena kesalahan penempatan kata depan, kata gabungan
yang tidak sesuai, penempatan keterangan aspek yang tidak sesuai, dan juga
diksi.
1.
Koherensi
kalimat rusak karena tempat kata dalam kalimat tidak sesuai dengan pola
kalimat. “ adik saya yang palimg kecil
memukul dengan sekuat tangannya kemarin pagi di kebun anjing”; “ anjing kemarin
pagi di kebun adik saya memukul dengan sekuat tenaga “. Penempatan kata
anjing merusak koherensi kalimat ini.
2. Koherensi kalimat rusak karena
salah satu menggunakan kata-kata depan, dan kata-kata penghubung misalnya, “ interaksi antara perkembangan kepribadian
dan perkembangan penguasaan bahasa menentukan bagi pola kepribadian yang sedang berkembang. (tanpa bagi); “ sejak
lahir manusia memiliki jiwa untuk melawan kepada
kekejaman alam, atau kepada pihak
lain karena merasa dirinya lebih hebat” (tanpa kepada).
3. Koherensi kalimat rusak karena
pemakaian kata seperti merangkaikan dua kata yang maknanya tidak tumpang tindih
atau mengandung kontradiksi.misalnya, “banyak para peninjau yang menyatakan
bahwa kegiatan yang sedang berlansung di gedung indoor UNG itu adala pertemuan
alumni” (makna banyak dan para tidak tumpang tindih).
4. Koherensi kalimat rusak karena
salah menempatkan keterangan aspek: sudah,telah,akan,belum
dan sebagainya pada kata kerja tangap. misalnya,”buku itu saya suda baca hinga
tamat”. Penempatan kata sudah diantara kata saya
dan baca kurang tepat,karena sebagai bentuk tanggap (saya baca) tadak boleh diselingi
keterangan apapun karena hubungan keduanya sangat ketetat.
C. Penekan
Penekan
dilakukan dilakukan ketika seseorang menggunakan bahasa baik secara lisan
maupun secara tertulis. Dalam bahasa lisan, jika member tekanan pada sebuah
kata, maka dapat menggunakan bahasa non-verbal seperti gerakan tangan, mimik,
keras lembutnya suara dalam pengucapan kata atau menggunakan intonasi. Pada
setiap kalimat tetap di dukung oleh subjek dan predikat. Unsur yang di
pentingkan harus mendapat tekanan dan lebih di tonjolkan dari unsure-unsur yang
lain. Berikut cara yang dapat digunakan untuk memberi penekanan baik dalam
lisan maupaun dalam bahasa tulisan.
1. Menguba posisi kata, kelompok kata,
atau frasa dalam kalimat. Sebagai prinsip dikatakan bahwa semua kata, kelompok
kata, atau frasa yang di tempatkan pada awal kalimat adalah yang di pentingkan.
Berdasarkan prinsip ini maka untuk mencapai efek yang di inginkan sebuah
kalimat dapat di ubah-ubah strukturnya dengan menempatkan kata, kelopok kata,
atau frasa yang di pentingkan pada awal kalimat.
Contoh:kami berhap pada kesempatan lain dapat
membicarakan lagi soal ini.
(a) Soal ini, kami berharap kita
bicarakan kita bicarakan pada kesempatan lain
(b) Pada kesempatan lain, kami
berharap persoala ini kita biasa bicarakan
(c) Harapan kami, pada kesempatan
lain kita dapat bicarakan lagi soal ini
(d) Pembicaraan soal in , dapat kita
bicarakan lagi pada ksempatan lain
2. Menggunakan repatisi pada kata,
kelompok kata, atau frasa dalam kalimat repatisi atau reduplikasi atau
pengulangan kata, kelompok kata, atau frasa dalam sebuah kalimat.
Contoh:
kemajuan menyangkut kemajuan di segala
bidang, kemajuan kesadaran politik, kesadaran bermasyarakat, kesadaran berekonomi, kesadaran berkebudayaan, kesadaran beragama.
3. Menggunakan pertentangan pada kata,
kelompok kata, atau frasa dalam kalimat.
Contoh:
(a) anak itu tidak malas dan curan, tetapi rajin
dan jujur;(b) kami tidak menghendaki
perbaikan yang bersifat timbale sulam, tetapi perbaikan yang menyeluruh di kampus ini.
4. Menggunakan partikel penekanan pada
kata, kelompok kata, atau frasa dalam kalimat. Partikel penekanan pada kata,
kelompok kata, atau frasa dalam kalimat bahasa Indonesia berfungsi untuk
menonjolkan gagasan atau ide dalam sebuah kalimat. Partikel-partikel itu
terdiri atas: lah,pun,kah,dan tah.
Contoh:
(a) Bacalah buku itu baik-baik!
(b) Apakah yang tersirat dalam surat itu?
(c) Siapakah gerangan dia?
(d) Apatah gunanya bersedih hati?
c. Variasi
Variasi
digunakan untuk tidak membosankan para pembaca atau pendengar ketika seseorang
berbahasa. Variasi dalam kalimat dapat di peroleh dengan cara sebagai berikut:
1) Variasi penggunaan sinonim
(a)
Berdasarkan renungan itulah penyair
menemukan suatu makna,suatu realitas yang baru, suatu kebenaran yang menjadi ide sentrel
menjiwai seluru puisi. (KFR, 44)
2) Variasi penggunaan kalimat panjang
dan pendek
3) Variasi penggunaan bentuk me dan di
4) Variasi dengan mengubah posisi dan
kalimat
d. Paralelisme
Paralelisme
atau kesejajaran bentuk membantu memberi kejelasan dalam unsur gramatikal degan
mempertahankan bagian-bagian yang sederajat dalam mkontruksi yang sama.
Contoh
:
1. Tahap terakhirr dari penyelsaian
gedung FBS itu adalah: pengecetan seluruh
temboknya pemasangan penerangan, pengujian system bagaian akhi dan penataan ruanganaya .(parallel)
e. Penalaran
atau logika
Struktur
gramatikal yang baik merupakan alat untuk merangkaikan sebuah pikiran atau
maksud dengan sejelas_jelsasnya. Tetapi dalam kenyataan ada pula orang yang
tanpa mempelajari struktur gramatikal suatau bahasa hal ini menujukan ada insur
lain yang harus di perhatikan dalam pemakain suatu bahasa, yaitu penalaran atau
logika
Definisi (batasan)
Definisi batasa atau batsasn yang tepat merupakan kkunci
dari berpikir, cirri berpikir yang logis dan juga mejadi cirri menulis yang
logis.setiap pembaca iingin mengetahui bagaimana batasan arti dari suatu
istilah sebelum melangkakah lebih jauh untuk memahami suatu maknanya definisi
terdiri atas:
a. Definisi berupa sinonim kata (pendidikan=pengajaran;
kemerdekaan=kebebasan ;
b. definis berdasarkan etimologi atau
asal usul kata (referendum berasal
dari kata latin re + fere yang
berarti membawa kembali
Generalisai
Generalisasi adalah suatu pernyataan
yang mengatakan bahwa apa yang benar mengenai beberapa hal yang sama . mebuat
generasi agar lebih berhati-hati dalam mengunakan kat-kata seperti selalu, tidak pernah, semua, tidak ada,
benar atau salah, generalisai seperti in di sebut generasi luas.
(a) Orang
yang luar biasa radikal pada masa mudanya selalu
menjadi konserpatif bila suda memperoleh harta dan kekuasann (generalisai
yang berlebihan.)
(b) Bahkan
pemuda-pemuda yang sangat radikal pun tampaknya akan menjadi komserpatif bila
suda memporoleh harta dan kekayaan ( generalisai yang baik)
Menurut
wijono (2012-205) cirri-ciri kalimat efektif adalah sebagai berikut
1. Ketuhanan
2. Kesejatraan
3. Kefokusan
4. Kehematan pengunaan unsure kalimat
5. Kecermatan dan kesantunan
6. Kefariasian kata dan struktur sehingga
menghasilkan kesegaran bahasa
d.
Makna
a.
Hakikat
mkna
Bahasa berkembang sesuai tuntutan
masayarakat memakainya.
Pengembangan diksi terjadi pada kata.
Namun, haal ini berpengaruh kepada pada penyususunan kalimat, paragraf dan
wacana. Pengembangan tersebut di lakukan untuk memenuhi kebutuhan komuniasi.
Factor-faktor
penyebab perubahan makna adalah sebai berikiut:
a.
Kebahsaan
Perubahan makna yang di timbulkan oleh
factor kebahasaan meliputi perubahan intonasi, frasa, bentuk kata, dan bentuk
kalimat.
1. Perubahan
intonasi adalah perubahan makna yang di akibatkan oleh perubahan nada, irama
dan tekanan
2. Perubahan
struktur data frasa: kaleng susu (kaleng
bekas tempt susu).
3. Perubahan bentuk kata adalah
perubahan makna yang di timbulkan oleh perubahan bentuk , misalnya : tua (tidak
muda) jika di timbale awalan ke- menjadi ketua.
4. Kalimat
akan berubah makana jika strukturnya berubah.
b.
Kesejarahan
Kata perempuan
pada zaman penjajahan jepang di gunakan untuk menyebut perempuan penghibur.orang penggantinya dengan
kta wanita.
c.
Kesosialan
Masalah social berpengaruh terhadap
perubahan makna.kata gerombolan yang pada mulanya bermakna orang berkumpul atau
kerumun. Kemudian, kata itu tdak digunakan karena berkonotasi dengan
pemberontak,perampok dan sebagainya.
d.
Kejiwaan
Perubahan makna karena faktor kejiwaan
ditimbulkan oleh pertimbangan, (1) rasa takut (2) kehalisan ekspresi, dan (3)
kesopanan.
e.
Bahasa
asing
Perubahan makna karena factor bahasa
asing, misalnya, kata tempat orang
terhormat diganti dengan VIP.
f.
Kata
baru
Kreatifitas pemakai bahasa berkembang
terus sesuai dengan kebutuhannya. Kebutuhan tersebut memerlukan bahasa sebagai
alat ekspresi dan komunikasi.
b.
Denotasi
dan konotasi
a.
Makna
Denotasi
Makna Denotasi merupakan makna kata yang sesuai dengan makna
yang sebenarnya atau sesuai dengan makna kamus.
Contoh :
Adik makan nasi.
Makan artinya memasukkan sesuatu ke
dalam mulut.
Adik minum susu setiap pagi supaya sehat
Makna denotasinnya adalah kata Minum
Harga
kambing hitam itu sangat mahal
Makna denotasinya adalah
kambing yang berwarna hitam
b.
Makna Konotasi
Makna Konotasi merupakan makna yang bukan sebenarnya dan
merujuk pada hal yang lain. Makna konotasi adalah makna kiasan.
1. Dalam peristiwa itu, dia dijadikan kambing hitam. (kambing
hitam bermakna orang yang dipersalahkan)
2. Anak itu berangkat besar ketika ayahnya pergi ke Jepang. (
berangkat bermakna beranjak atau mulai menjadi )
3. Bunga desa itu sudah menjadi karyawan bank.(Kata “bunga
desa” bermakna sesuatu yang dianggap cantik)
Berikut
adalah contoh-contoh kata yang bermakna denotasi dan konotasi
1) meluap
denotasi : Banjir yang terjadi kemarin disebabkan oleh air sungai yang meluap tak mampu dikendalikan oleh tanggul yang ada disekitanya.
konotasi : Kemarahan Pak Budi makin hari tambah meluap karena masalah yang diperbantahkan itu tidak pernah menemukan titik permasalahannya.
2) penuh
denotasi : Lokasi yang akan dijadikan sebagai tempat pusat hiburan itu telah terisi penuh oleh pemukiman penduduk.
konotasi : Pekerjaan itu dilakukannya dengan penuh rasa tanggung jawab.
3)naik
denotasi : Pak Halim pergi ke Makassar dengan naik mobil pribadi.
konotasi : Naik turunnya harga barang sangat dipengaruhi oleh jumlah permintaan konsumen.
4) tumbuh
denotasi : Pohon mangga yang tumbuh di halaman rumah Pak Ilham memiliki buah yang besar-besar.
konotasi : Kondisi perekonomian Indonesia mulai tumbuh sejak beralihnya sistem pemerintahan ke era reformasi.
5) atas
denotasi : Di atas pohon yang rindang itu ada terdapat beberapa sarang burung hantu.
konotasi : Irama yang muncul pada permukaan tembok itu ditimbulkan atas beberapa perpaduan warna
6) kendali
denotasi : Nakhoda memberikan instruksi kepada para penumpang kapal agar waspada, sebab kendali dalam kapal
c.
sedang mengalami gangguan.
konotasi : Peristiwa itu terjadi saat dirinya telah kehilangan kendali.(kontrol)
7) panas
denotasi : Permukaan kulit pada anak itu lecet akibat tersiram air panas.
konotasi : Suhu dalam ruangan itu semakin panas ketika peserta diskusi dalm ruangan itu saling beradu argumen.
konotasi : Peristiwa itu terjadi saat dirinya telah kehilangan kendali.(kontrol)
7) panas
denotasi : Permukaan kulit pada anak itu lecet akibat tersiram air panas.
konotasi : Suhu dalam ruangan itu semakin panas ketika peserta diskusi dalm ruangan itu saling beradu argumen.
d.
(panas=ketegangan)
e.
8) hancur
denotasi : Mainan anak pak lurah hancur terinjak mobil.
konotasi : Semua perkataannya kedengaran hancur akibat terbawa emosi .(hancur= tidak masuk akal).
9) arus
denotasi : Adik terseret arus yang sangat deras saat menyeberang sebuah sungai di tepi rumahnya.
konotasi : Arus balik pada lebaran tahun depan diprediksikan akan lebih banyak dibandingkan tahun kemarin.
denotasi : Mainan anak pak lurah hancur terinjak mobil.
konotasi : Semua perkataannya kedengaran hancur akibat terbawa emosi .(hancur= tidak masuk akal).
9) arus
denotasi : Adik terseret arus yang sangat deras saat menyeberang sebuah sungai di tepi rumahnya.
konotasi : Arus balik pada lebaran tahun depan diprediksikan akan lebih banyak dibandingkan tahun kemarin.
f.
(arus=sistem)
10) hangus
denotasi : Bau hangus itu dihasilkan dari pembakaran sisa-sisa plastik dan kertas yang ada di tepi jalan itu.
konotasi : Semua dana yang dianggarkan telah hangus akibat program kerja yang tidak tertata dengan rapi. (hangus=ludes)
10) hangus
denotasi : Bau hangus itu dihasilkan dari pembakaran sisa-sisa plastik dan kertas yang ada di tepi jalan itu.
konotasi : Semua dana yang dianggarkan telah hangus akibat program kerja yang tidak tertata dengan rapi. (hangus=ludes)
A.
Sisnonim
Sinonim
adalah persamaa makna kata. Artinya, dua kata atau lebih yang berbeda bentuk,
ejaan, dan pengucapanya, tapi makna sama . misalnya, wanita bersinonim dngan
dengan perempuan, makna sama tetapi berbeda tulisan maupun pengucapanya ,
adapun beberapa contoh yaitu:
a.
Hamil,bunting
b.
Hasil,produksi,presen
tasi,keluaran
c.
Kecil,mikro,minor,mugil
d.
Korupsi,mencuri
e.
Strategi,tknik,tektik,siasat,kebijakan
f.
Terminal,halte,perhentian,stasiun,pangaklan,pos
g.
Melihat,menonton,menjenguk,melirik,memandang,perhatikan
menngintip,menegok.
Jadi
kesinoniman mutlak jarang di temukan dalam perbendaharaan kata bahsa
indonesiaan. Ketidak mungkinaan menukar sebua kata dengan kata lain yang
bersinonim di sebabkan oleh berbgai alasan: waktu,tempat,kesopanan,suasana
batin,dan nuansa manka. Perhatikan contoh berikut: kegiatan, kesopanan,nuansa
makna, tempat atau daerah, dan waktu.
1.
Kesopanan,
misaknya: saya,aku.
2.
Kegiatan,
msisalnya: aman tentram,mataharisurya.
3.
Nuansamakna,misalnya:melihat,melirik,melutu,meninjau,menginip;penginapan,hotel,motel,
losmen; mantan, bekas.
4.
Tempat
atau daerah, misalnya kata: saya,beta.
5.
Waktu,
misalnya: pasar hamper bersinonim dengan konsummen atu pelangan.pasar pada masa
lalu berarti tempatt orang menjual beli.sedangkan pasar pada situasi masa
sekarang, mengalami perluasan bukan hanya tempat berjual beli, tetapi juga
berarti pemaka produk, konsummen, atau pelanggan
Dua kata
bersinonim atau hampir bersinonim tidak gunakan dalam sebuah frasa. Misalanya:
adalah merupakan, agar suapaya, bagi utuk, adalah yaitu, yth. kepada. Dalam
sebua kalimat,pengguanaan kedua kata tersebut,misalnya:
a)
Kucing
adalah merupakan binatang buas.(salah)
b)
Kepada
Yth. Bapak nurhadi (salah)
c)
Ia
berkerja keras agar supaya sukses.(salah)
Pengunaan kata bersinonim adalah
sebua frasa tersebut salah, seharusmya:
1)
Kucing
adalah binatang buas (benar)
2)
Kepada
bapak nur hadi (benar) Yth bapak nur hadi (benar)
3)
Bagi saya , pendapat itu salah (benar) untuk
saya, pendapat itu slah (benar)
BAB II
A. KESIMPULAN
1. Diksi adalah ketepatan pemilihan
kata di pengaruhi oleh kemampuan pangguna bahasa yang terkait dengan kemampuan
yang memahami, mengetahui, menguasai dan penggunaan kata aktif dan efektif
kepada pembaca dan pendengarnya.
2.
Makna denotasi adalah makna yang
sebenarnya yang sama dengan makna lugas untuk menyampaikan sesuatu yang
bersifat faktual. Makna pada kalimat yang denotatif tidak mengalami perubahan
makna.
3.
Makna konotasi adalah makna yang
bukan sebenarnya yang umumnya bersifat sindiran dan merupakan makna denotasi
yang mengalami penambahan.
4. Makna umum adalah makna yang
memiliki ruang lingkup cakupan yang luas dari kata yang lain.
5.
Makna khusus adalah makna yang
memiliki ruang lingkup cakupan yang sempit dari kata yang lain.
6. Kata makna bersinonim
Kata
bersinonim adalah kata yang bentuknya berbeda namun pada dasarnya memiliki
makna yang hampir mirip atau serupa.
7. Homonim artinya sama, nym berarti
nama, jdi homonim adalah sama nama.
8. Homofon adalah Bunyi atau suara yang
mempunyai sama, berbeda tulisan dan berbeda makna.
9. Homograf adalah Sama tulisan,
berbeda bunyi dan berbeda makna.
B. KRITIK DAN SARAN
a. Kritik
Pada
dasarnya masyarakat kita telah memahami penggunaan tata kaidah bahasa indonesia
yang baik dan benar, akan tetapi dalam pelaksanaannya seringkali masyarakat
dihadapkan pada situasi dan kokondisi berbahasa
yang tidak mendukung.
maksudnya ialah masyarakat masih enggan untuk
mengikuti kaidah tata bahasa Indnesia yang baik danbenar
dalam komunikasinya sehari-hari,masyarakat sering terdikte oleh
aturan-aturan tata bahasa yang salah.
b.
Saran
Dengan berpedoman pada EYD, khususnya cara pelafalan huruf
hendaknya mengikuti aturan yang sudah dibakukan.
Untuk membaca singkatan kata (termasuk kata asing selain
akronim),begitu juga dengan dalam pemilihan kata (diksi ) yang dibaca huruf
demi huruf, jika penutur sedang berbahasa Indonesia, pelafalannya harus sesuai
dengan lafal huruf bahasa Indonesia.
DAFTAR
PUSTAKA
Heryati,
Yeti, Cecep Wahyu, Enung K. Rukianti, Heri Jauhari.2013. Bahasa Indonesia. Bandung : BCM Digital
Printing.
Matakristal.com
Yandianto.
2001. Kamus Umum Bahasa Indonesia.
Bandung : M2Sl. 37

Komentar
Posting Komentar